Semua mata tertuju padanya, pandangan mengawasi sembari berbisik-bisik di antara mereka sendiri.
ahh, apa ya salah hamba ini? Ucap Ainnur dalam hati tanpa menghentikan langkahnya yang kian lama kian cepat saja.
Ainnur pulang, pulang dengan hati gundah.
***
"nap, engkau tau si budak nur tu?"
"oo, anak anjang ke?"
dua wanita tua yang tak punya kerjaan selain mengurusi rumah dan suami memang gemar membicarakan orang, tak hanya mereka, hampir semua wanita kampung sini pun begitu adanya.
"dah gadis pun budak tu, belom lagi berkawin" sergah mak uli
"ha ah, muka lawa, sekolah tinggi, tak mungkin tak ada bujang yang nak kan dia?" mak enap menimpali.
"nanti aku nak ke tempat pak anjang, biar aku cakap, malang budak nur belum lagi ada yang melamar"
begitulah, kira-kira pikiran wanita-wanita kampung akan Ainnur, satu-satunya gadis kampung sini yang melanjutkan kuliahnya di luar pulau. Kali pikirannya tidak lagi kolot, atau mungkin dia masih memilih dan memilah bujang mana yang pantas untuk mengawininya.
***
sore hari sesuai perkataannya, mak uli datang ke rumah pak anjang sekedar bercakap, bersapa untuk mempererat silaturahmi.
"eh, uli? apa hal kau datang? idul fitri masih jauh lagi..." ucap pak anjang yang kaget melihat kedatangan mak uli yang tiba-tiba.
"alah anjang ni, tak boleh kah aku maen? aku nak tengok si nur. Dari dia datang balek, belum lagi aku bertemu dia"
"ohh, engkau cakap dengan dia saja li, aku nak istirahat dulu, penat aku. nuuuurr, ooo nuur, mak uli nak jumpa, kemarilah!" pak anjang memanggil gadisnya dan segera masuk ke kamar. Lelah ia setelah bekerja seharian sebagai guru sekolah dasar.
dari dapur, mucullah nur tergesa-gesa sambil membersihkan tangannya dengan gombal.
"eh, mak uli, apa gerangan nak jumpa saya? eh, mari duduk mak. Saya buatkan minum dulu ya mak. Mak pasti haus jauh jauh kemari" ainnur kembali ke dapur untuk mengambil minuman untuk mak uli.
mak uli duduk, sedikit ragu dengan apa yang ingin dikatakannya. Tapi keraguannya itu musnah ketika ia melihat nur kembali dari dapur dan membawa minuman unutknya. ahh, malang betul kau nak.
"ehm, nak" mak uli memulai "sudah punya kekasih kau nak?"
nur terperanjat, hatinya bergetar, belum ada yang berani bicara terang-terangan mengenai masalah ini, bapakpun tidak.
nur tertunduk. "ahh, siapa nak kan saya mak? saya tak lawa, sekolah saya belum siap mak, tahun depan baru selesai, nantilah mak" jawab nur lemas, entah ke mana pembicaraan ini nantinya. Ia belum ingin menikah, membahagiakan bapak saja belum.
pembicaraan itu berlanjut, mak uli mengenalkan hampir seluruh bujang yang ada di kampung yang semuanya hanya dibalas senyum oleh nur dengan perkataan yang selalu sama "nanti dulu lah mak, sekolah saya belum siap".
***
bersambung
0 komentar:
Poskan Komentar