Prolog
Sebenarnya cerita ini tidak bisa dibilang baru, cukup lama, tetapi maksud dari pembuatannya adalah mengikuti event dari NBC yogya pada saat itu. Tapi sepertinya tidak berdosa kalau saya
publish di sini. Sekedar menjadi penghibur atau penambah kenangan. Berhubung cukup panjang, jadi saya bagi beberapa part, supaya enak dibaca :)
-------------------------------
----------------
"Terimakasih Jogja, kenangan indah yang pernah ada.
Maaf Jogja, ku tinggalkan semua kenanganku bersamamu.
Terimakasih nyataku, kenangan terindah adalah bersamamu."
Pagiku
Hal yang sama terjadi lagi, aku tersadar di pagi buta dan menghirup hawa itu lagi. Aku takkan bisa tidur lagi, lebih baik aku duduk di sisi tempat tidur dan memandang keluar jendela.
Mungkin kedengarannya aneh, tapi ini benar-benar terjadi padaku setiap pagi, setiap aku akan berangkat ke kota itu: Jogja. Tidak seperti liburan atau keperluan di kota-kota lain, pergi ke kota Jogja seolah mempunyai sensasi sendiri yang aku sendiri tidak mengeri: “kok gitu ya?”
Aku memastikan barang-barang yang harus kubawa tidak ada yang tertinggal: baju lengkap, charger, buku, dan lainnya. Sejenak aku kembali memandang keluar jendela “hah, semoga ini yang baik buatku” dan akupun bergegas mandi karena matahari sudah mulai merangkak naik.
Dinginnya air pagi di musim hujan membuat bulu kudukku bergidik dan menggetarkan lututku ketika keluar dari kamar mandi. | Kaos abu-abu dan celana jeans belel menjadi pilihan “ntar naek bis ekomomi kok.”
Cinta yang kurindukan
Hatiku baru saja patah, Mas Ardi yang ku harapkan semenjak awal SPMB kini sudah mempunyai pujaan hati, wanita lain.
Setelah hampir 2,5 tahun kuliah di Kota Semarang, aku baru bisa mendapatkan perhatian Mas Ardi dan semenjak itulah aku sering sekali berkunjung ke Jogja dengan satu alasan: aku kangen Mas Ardi!
Hampir sebulan satu kali aku mengunjunginya, dan setiap itu pula aku selalu merasakan perasaan berbunga-bunga saat bangun tidur. Mengirup udara pagi sedalam-dalamnya dan mataku menjadi cerah, secerah mentari pagi.
Cinta yang membuncah dan harapan menggapai langit seketika hancur ketika langit runtuh tepat setahun aku melakukan pendekatan, Mas Ardi mengatakan dia telah bersamanya, wanita lain.
Fikiranku, suasana pagi itu akan hilang, bersamaan dengan hilangnya perasaan ini. Tapi ternyata aku salah. Suasana pagi itu muncul lagi! Apakah karena niatku yang ingin menemui seseorang, seseorang yang mungkin saja ku rindukan, seseorang yang mungkin saja membawa cinta.
Pukul tujuh pagi aku sudah berada di depan Terminal Sukun, menunggu bis ekonomi yang akan mengantarkanku ke kota itu. Ternyata, tidak perlu menunggu lama, karena sesuatu yang dinantikan pun tiba. Aku bergegas, naik, duduk, dan terpekur.
Tenggelam dalam lamunan, kembali menggali memoriku, mengingat saat pertama kali aku mengenal pria itu. Perkenalan yang singkat melalui forum kaskus.us yang kemudian berlanjut ke yahoo messenger. Awal yang manis, momen yang tepat, aku berharap dia adalah jawaban dan cinta yang ku nanti.
Terminal Jombor, aku turun, menghirup nafas sedalam-dalamnya, meyakinkan diri bahwa ini bukan mimpi. Segera ku tuju shelter trans jogja menuju daerah Karangmalang, kost temanku semasa SMA dulu. Aku sering ke sana, karena biasanya aku di sana untuk menumpang hidup dalam kunjunganku saat ingin menumpahkan rindu ke Mas Ardi.
Turun di shelter UNY kemudian berjalan kaki ke Karangmalang. Bisa dikatakan jauh, tapi tak mengapa aku suka hiruk pikuk di daerah ini. Melihat-lihat mahasiswa yang baru pulang atau akan berangkat ke kampus.
Entah apa yang membuat hal ini berbeda. Padahal di Semarang juga ada yang seperti ini.
www
Pukul tujuh malam pria itu akan menjemputku, kamu janjian di depan Maskam UGM. Hati ini bergejolak, “seperti apa dia, apakah sama seperti fotonya?”
Dari jauh terlihat seorang pria dengan motor menuju ke arahku “itu pasti dia!” Dia tersenyum, matanya memancarkan kedewasaan yang begitu lembut. Hatiku terpikat, terpikat oleh mata itu.
“haloo” sapanya menutup lamunanku.
“eh iya, saya Ratri, kamu Mas Tio kan?”
Dia mengangguk pelan sembari mengulurkan tangan. Hangat! Itu yang kurasakan saat tanganku meraih tangannya. Apa ini cinta pada sentuhan pertama? Wajahku memanas, aku yakin pipiku mulai merona “aku maluu”
--------
@to be continued