Minggu, 18 Maret 2012

belati dan candu

Kedatangannya begitu gempita bersama belati dan candu. Tepat ketika kau memandang wajahnya candu yang bersemayam menyeruak dan memabukkanmu, tidak akan pernah kau sadari, kau telah...

Mabuk

Tidak adalagi gangguan dunia yang kau sadari, fikiranmu penuh, penuh akan hal-hal manis yang tercipta oleh candu. Lagi, tidak akan pernah kau sadari, sepucuk belati kini sudah tertanam di dadamu. Sakit? Tidak! Kau bahagia...

Semu

Seketika kau sadar, waktu ternyata tidak berhenti, angin ternyata tidak pernah stagnan, batas semakin menjepit. Dirinya pergi, pergi entah sampai kapan akan kembali.  Sadar akan menjadi kata terpahit sepanjang hidupmu karena ketika itu juga jantung berpacu memompakan darah sederas-derasnya menuju otakmu, mata hanya bisa terbelalak, hidung bereaksi akan anyir, dan bibir terbuka lebar karena hidung tergegap. Perlahan kau...

Mati

Selasa, 24 Januari 2012

Bau-Mu Musang-Mu (?)

Bau, ada wangi, ada seger, ada asem, ada busuk, dan lain-lain. Sekarang ketek-mu lagi bau yang mana?

Mungkin masalah satu ini sudah umum adanya, bisa dibilang sepele tapi banyak kalanya masalah ini jadi tidak sepele.
Contohnya ketika kamu bersama kekasih tercinta sedang menikmati suasana kota di atas jok motor dan seketika traffic light mengentikan laju dua roda bundarnya, lalu beberapa detik kemudian ada truk sampah berhenti dengan manisnya di samping kalian. Beruntungnya lagi, angka merah itu menunjukkan angka 299. Bagaimana?
Banyak hal yang bisa terjadi hanya karena masalah satu ini. Saya tidak akan mengupas satu-satu secara akurat dan tajam. Hanya sebisa otak saya saja untuk menciptakan rangkaian kata sehingga menjadi kalimat. *pameo*

Mungkin saja seseorang bisa di tangkap pihak kepolisian hanya karna masalah bau. Kalau hal itu benar-benar terjadi sepertinya kemungkinan besar sayalah yang melaporkan orang tersebut. Sekarang tolong bayangkan! Dalam keadaan sangat lapar, setelah perjuangan begitu panjang melewati jalan gelap minim cahaya, dan tentu saja dengan sebisa mungkin menahan diri untuk tidak lari ketika melihat anjing. Sesampainya di warung remang-remang pinggir jalan. Seorang pria bertubuh besar dengan percaya dirinya duduk di depan saya tepat ketika nasi yang saya pesan dihidangkan.
OK! saya tahu selera hidung setiap orang berbeda. Tapi kenapa parfumnya yang sangat wangi itu mirip sama wangi Baygon Lavender saya?! Sejujurnya saya takut, takut keracunan, siapa tahu saya memang punya keturunan serangga? Ide untuk menahan nafas selama makan sepertinya kurang bijaksana yah. :|

Di lain pihak, bisa jadi ada salon yang tiba-tiba tutup karena mendapat citra jelek dari internet. Percayalah saudara-saudara mungkin yang meyebarkan aib itu adalah saya. Untuk pertama kalinya saya buang-buang uang creambath di salon. Tidak terlalu buruk untuk pengalaman pertama sebelum saya sampai di tempat cucian baju kost. Tebak! Wanginya rambut saya sama lho sama sabun cuci punya temen. :|

Senin, 23 Januari 2012

saat ini

Pernah ga? sebentar saja.Kita diam, menikmati sekarang, tanpa takut tentang yang akan datang, tanpa berdurja akan yang telah lampau.

Hanya ada aku bersama sekarang, aku yang kini.
Diam, berbaring, sembari terus menerus mendaratkan jemari diantara sekian banyak tombol di keyboard.
Melodi yang sudah akrab dengan telingaku selama bertahun-tahun mengalun, merambat melalui dinding dan udara kamarku lalu menyentil gendang telingaku mengajak berdendang bersama.

Dalam pikiran ini hanya ada saat ini.
Bukan berarti aku melupakan saat itu, hanya saja aku hanya ingin saat ini,
saat ini yang menemani.~

Minggu, 08 Januari 2012

Writier's block *alasan*

Hahaha, selalu ada keluhan saat mau bikin cerita, baik pendek, panjang, maupun bersambung. Ada aja yang jadi bahan ngidam!

Seringnya ketika ada ide kemudian ada bahan ngidam yang ga kesampaian kemudian tertunda pembuatannya sampai akhirnya ide itu benar-benar menguap tak tersisa. Bahan ngidam ini macem-macem, ga cuma berupa barang seperti mau buku atau pulpen baru tetapi juga keadaan tertentu seperti: ntar deh kalo udah pulang kerja, ntar deh kalau tugasnya udah kelar, ntar deh weekend, atau ntar deh kapan-kapan. :|
Those things happen over and over again!

Setelah ide menguap, yang tersisa hanya...angin. Iya cuma angin, mending kalau saya sempet membuat gambar sampul atau coretan di buku, jadi bisa inget dan (mungkin) suatu saat akan melanjutkannya lagi. Tapi selama ini sih, engga pernah tuh.

Ada juga faktor tidak percaya diri, ketika menulis kemudian membaca tulisan-tulisan orang lain lalu minder. Merasa kemampuan tidak seberapa atau sejenisnya. Saya masih mentah!

Padahal kalau dipikir-pikir seharusnya ga gitu juga ya?
kalau mau nulis ya nulis aja. Ngapain nunggu ini itu?
Kenapa harus minder? Asal kita ngerjainnya maksimal pasti bisa aja kan ya?
Mentah? Kapan matengnya kalau ga latihan dan cuma mandangin tulisan orang dengan nanar tanpa ada niat buat melajarin? :|

Pertanyaan di atas jangan Anda jawab, itu pertayaan yang harusnya saya jawab sendiri.
Seperti yang ada di buku Heart Block karangan Sepatumerah yang menjelaskan penyakit nan keren bernama Writer's Block yang kira-kira artinya keadaan di mana penulis sedang tidak mampu untuk menulis atau mandek.

Tapi ya tapi. Kalo alasan saya yang kaya di atas itu, bukan Writer's Block namanya. Itu MALES!

Ya saudara-saudara, cukup sekian entry pengingat diri sendiri ini, dan semoga berhasil! *pasang ikat pinggang!

Kamis, 05 Januari 2012

SATU MALAM DI JOGJA #2

Ku peluk Jogja Malam Ini
Jogja dengan segala keeksotisanmu, malam ini aku ingin memelukmu. Bersama dia, pria itu.


Angin Jogja malam menerpa pipiku, aku menikmatinya dan seandainya bisa, aku ingin mengambil kemudian menyimpannya agar bisa kunikmati setiap saat. Setiap saat ketika kaki ini tidak bisa menjejak di atas mu.
“sudah makan dek?”
“ehh, belum mas”
“makan di penyetan langganan mas mau?”
Aku mengangguk tersipu, aku tertangkap basah sedang asik bersama lamunanku.  Dia hanya tersenyum kemudian mengalihkan pandangannya dari spion.
www
Setelah makan malam, dia mengajakku untuk menikmati kopi joss di daerah Tugu. Pembicaraan yang awalnya biasa saja kini mengarah ke arah yang serius. Dia menceritakan tentang keluarganya, kehidupannya, dan semua mimpi dan harapannya. Semuanya, semuanya membuat aku terpekur.
“kamu gimana dek?”
“ehh, anu, belum kepikiran ntar mau gimana” bagaimana dengan ku?! Apa mimpiku?!
Ceritanya terus berlanjut, berlanjut hingga malam hampir larut.
“dek, kalo kita jalan-jalan semalaman keberatan ga?”
“ngga papa mas, aku tinggal izin sama temenku”
www
Roda berputar dengan cepat, mengantarkan kami hingga kawasan Prambanan. Dinginnya malam semakin menusuk, tubuhnya menggigil, singkat! naluriku mengantarkan kedua tanganku di lingkar pinggangnya, aku memeluknya, erat!. Suasana menjadi semakin hangat. Obrolan santai terjadi sepanjang perjalanan kami kembali ke kota jogja.
Indahnya malam ini, damainya perasaaanku saat ini, benar-benar ingin ku memeluk Jogja saat itu juga.
www
Persinggahan terakhir, kami duduk menikmati malam di kucingan sekitar Kali Code. Semangkuk mie rebus dan seteko teh poci, ku harap bisa menghangatkan tubuh ini yang mulai kaku karena dinginnya malam.
Dia menatapku dalam, tanpa ku sadari sebuah kecupan melayang di keningku. Apa ini? Belum ada semalam aku bersamanya? Oh Tuhan, sesingkat inikah cinta?
Wajahku memerah, bibirku membisu, aku bingung harus berbuat apa. Apakah ini cinta? Atau hanya bisikan iblis malam yang sepintas hadir?
Selanjutnya, kami terdiam, tersipu. Kedua makhluk kebingungan ini tiba-tiba fokus menghabiskan makanan masing-masing dan sibuk dengan segala intepretasi peristiwa yang baru saja terjadi.
www

Biarlah
Biar mimpi tetap menjadi mimpi. Apapun kenyataan untukku, aku lebih mencintainya.


Aku tersadar dari lamunan panjang. Malam itu merupakan malam pertama dan terakhir terjadinya pertemuan kami. Aku tidak menyesal pernah mengenalnya dan menikmati malam Jogja kala itu.
Melirik ke kanan, dan melihat sang nyata sedang tidur. Dia yang nyata, menemani hidupku semenjak pernyataan kesediaanku untuk terus berada di sampingnya. Maaf sayang, aku hanya mengingat kejadian malam itu. Aku tak bisa mengatakannya secara langsung, ini tulisanku dan bersamanya aku berikan pengakuan.
Ku tutup tulisanku, ku tutup kenangan itu, dan aku tersenyum bersama nyata ku.


----
The End

Rabu, 04 Januari 2012

SATU MALAM DI JOGJA #1

Prolog
Sebenarnya cerita ini tidak bisa dibilang baru, cukup lama, tetapi maksud dari pembuatannya adalah mengikuti event dari NBC yogya pada saat itu. Tapi sepertinya tidak berdosa kalau saya publish di sini. Sekedar menjadi penghibur atau penambah kenangan. Berhubung cukup panjang, jadi saya bagi beberapa part, supaya enak dibaca :)
-------------------------------
----------------

"Terimakasih Jogja, kenangan indah yang pernah ada.  
Maaf Jogja, ku tinggalkan semua kenanganku bersamamu.

Terimakasih nyataku, kenangan terindah adalah bersamamu."
Pagiku
Hal yang sama terjadi lagi, aku tersadar di pagi buta dan menghirup hawa itu lagi. Aku takkan bisa tidur lagi, lebih baik aku duduk di sisi tempat tidur dan memandang keluar jendela.



Mungkin kedengarannya aneh, tapi ini benar-benar terjadi padaku setiap pagi, setiap aku akan berangkat ke kota itu: Jogja. Tidak seperti liburan atau keperluan di kota-kota lain, pergi ke kota Jogja seolah mempunyai sensasi sendiri yang aku sendiri tidak mengeri: “kok gitu ya?
Aku memastikan barang-barang yang harus kubawa tidak ada yang tertinggal: baju lengkap, charger, buku, dan lainnya. Sejenak aku kembali memandang keluar jendela “hah, semoga ini yang baik buatku” dan akupun bergegas mandi karena matahari sudah mulai merangkak naik.
Dinginnya air pagi di musim hujan membuat bulu kudukku bergidik dan menggetarkan lututku ketika keluar dari kamar mandi. | Kaos abu-abu dan celana jeans belel menjadi pilihan “ntar naek bis ekomomi kok.
Cinta yang kurindukan
Hatiku baru saja patah, Mas Ardi yang ku harapkan semenjak awal SPMB kini sudah mempunyai pujaan hati, wanita lain.



Setelah hampir 2,5 tahun kuliah di Kota Semarang, aku baru bisa mendapatkan perhatian Mas Ardi dan semenjak itulah aku sering sekali berkunjung ke Jogja dengan satu alasan: aku kangen Mas Ardi!
Hampir sebulan satu kali aku mengunjunginya, dan setiap itu pula aku selalu merasakan perasaan berbunga-bunga saat bangun tidur. Mengirup udara pagi sedalam-dalamnya dan mataku menjadi cerah, secerah mentari pagi.
Cinta yang membuncah dan harapan menggapai langit seketika hancur ketika langit runtuh tepat setahun aku melakukan pendekatan, Mas Ardi mengatakan dia telah bersamanya, wanita lain.
Fikiranku, suasana pagi itu akan hilang, bersamaan dengan hilangnya perasaan ini. Tapi ternyata aku salah. Suasana pagi itu muncul lagi! Apakah karena niatku yang ingin menemui seseorang, seseorang yang mungkin saja ku rindukan, seseorang yang mungkin saja membawa cinta.
Pukul tujuh pagi aku sudah berada di depan Terminal Sukun, menunggu bis ekonomi yang akan mengantarkanku ke kota itu. Ternyata, tidak perlu menunggu lama, karena sesuatu yang dinantikan pun tiba. Aku bergegas, naik, duduk, dan terpekur.
Tenggelam dalam lamunan, kembali menggali memoriku, mengingat saat pertama kali aku mengenal pria itu. Perkenalan yang singkat melalui forum kaskus.us yang kemudian berlanjut ke yahoo messenger. Awal yang manis, momen yang tepat, aku berharap dia adalah jawaban dan cinta yang ku nanti.
Terminal Jombor, aku turun, menghirup nafas sedalam-dalamnya, meyakinkan diri bahwa ini bukan mimpi. Segera ku tuju shelter trans jogja menuju daerah Karangmalang, kost temanku semasa SMA dulu. Aku sering ke sana, karena biasanya aku di sana untuk menumpang hidup dalam kunjunganku saat ingin menumpahkan rindu ke Mas Ardi.
Turun di shelter UNY kemudian berjalan kaki ke Karangmalang. Bisa dikatakan jauh, tapi tak mengapa aku suka hiruk pikuk di daerah ini. Melihat-lihat mahasiswa yang baru pulang atau akan berangkat ke kampus.
Entah apa yang membuat hal ini berbeda. Padahal di Semarang juga ada yang seperti ini.
www
Pukul tujuh malam pria itu akan menjemputku, kamu janjian di depan Maskam UGM. Hati ini bergejolak, “seperti apa dia, apakah sama seperti fotonya?”
Dari jauh terlihat seorang pria dengan motor menuju ke arahku “itu pasti dia!” Dia tersenyum, matanya memancarkan kedewasaan yang begitu lembut. Hatiku terpikat, terpikat oleh mata itu.
“haloo” sapanya menutup lamunanku.
“eh iya, saya Ratri, kamu Mas Tio kan?”
Dia mengangguk pelan sembari mengulurkan tangan. Hangat! Itu yang kurasakan saat tanganku meraih tangannya. Apa ini cinta pada sentuhan pertama? Wajahku memanas, aku yakin pipiku mulai merona “aku maluu
--------
@to be continued

Selasa, 03 Januari 2012

Books for this month!

Entah ini passion atau bukan, tapi yang jelas saya bisa mencurahkan segenap uang yang saya punya dengan mudahnya ke tangan kasir-kasir cantik dan menukarnya dengan buku yang saya inginkan.
Biasanya pergi ke toko buku tanpa tujuan khusus, judul apa yang mau saya beli, tapi biasanya rak "Novel" menjadi incaran nomor satu.

Sepertinya buku-buku fiksi menjadi teman setia dengan penggambaran yang wuah! Tanpa batas, terserah saya yang mau menggambarkannya seperti apa, terserah saya mau bela tokoh siapa, dan tentu saja, terserah saya mau menamatkannya sampai berapa lama *d'oh!

Fase gajian bulan ini saya beli beberapa buku, satu diantaranya sudah selesai saya baca, satu lagi sedang penggarapan, dan dua lainnya masih dalam antrian untuk dibaca. Untuk itu, perlu ada beberapa penghematan besar-besaran untuk dapat bertahan dalam kejamnya harga makanan di Bali.
"you know you've read a good book when you turn the last page and feel a little as if you have lost a friend" - Paul Sweeney
And damn! it's true!
Terkadang saya ingin masuk lagi ke dalam dunia yang sudah saya ciptakan berdasarkan cerita buku yang telah saya baca dan tidak ingin keluar lagi. Masih ingin mengetahui, tokoh itu sedang apa? tokoh itu bahagia selamanya atau ngga?. Masih ingin mengintip lebih dalam kehidupan tokoh-tokoh itu. Terakhir masih tidak ingin tersadar ternyata saya masih punya dunia sendiri, real world!.

Sering lho, saya melihat orang-orang di sekitar saya dan menyamakan/ membandingkan mereka dengan tokoh tertentu dalam buku, dan kemudian saya kembali mengingat cerita buku tersebut dan merasa dunia di buku itu hidup lagi, begitu dekat..begitu nyata... *bukan iklan

Jatuh cinta dengan tokoh buku? Jangan tanya deh, sering! XD

Then, cita-cita saya yang masih berkenaan dengan buku...bukan, bukan bikin buku, tapi bisa menikmati dan menamatkan semua buku-buku psikologi atau pengembangan diri yang telah saya beli! :)

"I don't know when it started. Suddenly I just can't live without books!" - Me